Jumat, 23 November 2012
Rabu, 21 November 2012
Rabu, 14 November 2012
KONTRIBUSI PANJANG TUNGKAI DAN KELENTUKAN TOGOK
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidikan jasmani
merupakan suatu pendidikan yang tujuan untuk mengembangkan kebugaran jasmani,
mental, sosial, serta emosional bagi masyarakat dengan wahana aktivitas
jasmani. Sedangkan pendidikan jasmani di sekolah merupakan bagian dari tujuan
pendidikan nasional yang mana pengajarannya hanya mengajarkan kemampuan gerak
dari keterampilan dasar olahraga. Gerakan olahraga tersebut akan memunculkan
adanya rasa senang bagi peserta didik sehingga memudahkan usaha dari pendidikan
dalam mencapai tujuannya.
Gerakan-gerakan yang
terdapat pada semua cabang olahraga pada intinya merupakan gerakan dasar yang
berasal dari gerakan olahraga atletik. Atletik juga merupakan sarana pendidikan
jasmani bagi peserta didik dalam upaya peningkatan daya tahan, kekuatan,
kecepatan, kelincahan, kelentukan dan lain sebagainya. Pembelajaran pendidikan
jasmani merupakan salah satu muatan pendidikan dalam segala jenjang tingkatan
pendidikan.
|
1
|
Prestasi olahraga adalah
puncak penampilan dari seorang olahragawan yang dicapai dalam suatu
pertandingan atau perlombaan, setelah melalui berbagai macam latihan dan uji
coba. Demikian pula pada setiap orang yang telah belajar dan menekuni cabang
olahraga atletik nomor lompat, untuk memperoleh hasil yang maksimal tidak
terlepas dari usaha pembinaan. Pembinaan merupakan suatu usaha yang dilakukan
untuk meningkatkan prestasi. Melalui pembinaan olahraga dapat ditingkatkan
kesegaran jasmani, pengertian mengenai prinsip hidup sehat, pembinaan mental
bahkan pada masa itu harus ditanam, dipupuk dan dikembangkan untuk mencapai
prestasi olahraga yang tinggi.
Menurut Syarifuddin (dalam
Jahruddin, 2010:2) bahwa “Lompat jauh adalah suatu bentuk gerakan melompat
mengangkat kaki ke atas ke depan dalam upaya membawa titik berat badan selama
mungkin di udara (melayang di udara) yang dilakukan dengan cepat dengan jalan melakukan
tolakkan pada satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya”.
Perkembangan olahraga
sekarang ini perlu mendapatkan pembinaan khusus yang serius pada tiap-tiap
cabang olahraga khususnya pada cabang olahraga atletik nomor lompat jauh.
Pengembangan serta peningkatan potensi dan kemampuan fisik di nomor lompat jauh
sangat dibutuhkan terutama ditekankan pada bagian tubuh yang memegang peranan
penting dalam lompat jauh, diantaranya adalah potensi dan unsur fisik yaitu
panjang tungkai dan kelentukan togok.
Menurut Sajoto (1995:7)
mengemukakan bahwa ”Ada empat macam kelengkapan yang perlu di miliki apabila
seseorang akan mencapai suatu prestasi yang optimal yaitu meliputi (1)
Pengembangan fisik (Physical Build-Up),
(2) Pengembangan teknik (Technical
Build-Up), (3) Pengembangan mental (Mental
Buld-Up) dan (4) Kematangan juara. Sedangkan menurut Sukadiyanto (2005:129)
bahwa “Secara garis besar faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat
kemampuan fleksibilitas seseorang
antara lain adalah (1) elastisitas otot, (2) tendo dan ligament, (3) susunan
tulang, (4) bentuk persendian, (5) suhu dan temperatur tubuh, (6) umur, (7)
jenis kelamin dan (8) bioritme”.
Potensi dan kemampuan
fisik merupakan salah satu yang sangat esensial dalam menunjang prestasi atlet.
Berkaitan dengan lompat jauh, panjang tungkai sebagai salah satu anggota gerak
bawah memiliki peran penting sebagai penopang gerak tubuh bagian atas, serta
penentu gerakan baik dalam berjalan, berlari, melompat maupun menendang,
demikian pula dengan kelentukan atau fleksibilitas
togok. Kelentukan merupakan salah satu aspek kondisi fisik yang sangat penting
dalam pencapaian prestasi optimal.
Peranan panjang tungkai
terhadap kemampuan lompat jauh adalah sangat penting. Tungkai yang panjang akan
memberikan kekuatan serta peluang melakukan gerakan dalam ruang yang lebih luas
dan waktu yang terbatas. Oleh karena itu, lompat jauh membutuhkan panjang
tungkai sehingga memungkinkan menghasilkan lompatan yang jauh ke depan.
Unsur kondisi fisik yang
dibutuhkan dalam lompat jauh adalah kelentuan togok. Peranan kelentukan togok
atau kelentukan tubuh dibutuhkan pada saat melayang di udara dengan menggunakan
gaya jongkok, selain itu juga, kelentukan togok dibutuhkan pada saat akan
mendarat. Kelentukan togok mendukung laju kecepatan tubuh ke depan serta dapat
menunjang jauhnya tubuh ke depan waktu mendarat.
Salah satu program studi di Universitas Tadulako yaitu Program
Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi angkatan 2010 memiliki banyak
mahasiswa. Namun pada kenyataannya dalam proses perkuliahan dalam mata kuliah
atletik nomor lompat jauh, lompatan mereka tidak sejauh dengan apa yang
diharapkan, dimana lompatan para mahasiswa putra PJKR Untad angkatan 2010 hanya
sebagian yang memiliki hasil lompatan yang cukup jauh dan sebagiannya masih
kurang jauh.
Kenyataan di lapangan
bahwa mahasiswa PJKR banyak yang belum mencapai hasil yang maksimal pada saat
melakukan lompatan. Hal itu mungkin dikarenakan oleh faktor postur tubuh dan
masih kurangnya latihan kondisi fisik yang dalam hal ini adalah kelentukan
togok para mahasiswa sehingga lompatan yang di hasilkan kurang maksimal (hasil
lompatan dekat). Selain itu juga belum pernah ada mahasiswa PJKR Untad angkatan
2010 yang mengikuti kejuaraan atletik khususnya pada nomor lompat jauh sehingga
prestasi yang diraih belum ada.
Semua ini merupakan salah
satu kendala yang sering terjadi pada mahasiswa, dan salah satu penyebab
utamanya adalah karena tidak didukung dengan potensi dan kondisi fisik yang
prima. Oleh sebab itu, peneliti berasumsi bahwa mahasiswa yang memiliki panjang
tungkai dan kelentukan togok yang baik, diprediksi akan erat kaitannya dengan
kemampuan dalam lompat jauh. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa untuk dapat
melakukan lompat jauh dengan waktu yang relatif singkat atau cepat dan dapat
menghasilkan lompatan sejauh mungkin ke depan, maka terlebih dahulu harus
memiliki potensi dan kondisi fisik yaitu panjang tungkai dan kelentukan togok
yang baik.
Menyimak
dari uraian tersebut di atas, maka penulis mencoba meneliti tentang panjang
tungkai dan kelentukan togok yang dianggap dapat meningkatkan kemampuan lompat
jauh gaya jongkok mahasiswa putra PJKR Untad angkatan 2010.
Berdasarkan dari latar belakang tersebut, maka penulis bermaksud untuk
mengetahui secara pasti tentang adanya kontribusi kedua faktor tersebut dengan
mengangkat judul penelitian “Kontribusi panjang tungkai dan kelentukan togok
terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada mahasiswa putra PJKR Untad angkatan
2010”.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan dari uraian
tersebut di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah ada kontribusi panjang tungkai
terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada mahasiswa putra PJKR Untad
angkatan 2010?
2. Apakah ada kontribusi kelentukan togok
terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada mahasiswa putra PJKR Untad
angkatan 2010?
3. Apakah ada kontribusi secara bersama-sama
panjang tungkai dan kelentukan togok terhadap kemampuan lompat jauh gaya
jongkok pada mahasiswa putra PJKR Untad angkatan 2010?
C. Tujuan
Penelitian
Sesuai dengan
rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apakah ada kontribusi
panjang tungkai dengan kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada mahasiswa putra
PJKR Untad angkatan 2010.
2. Untuk
mengetahui apakah ada kontribusi kelentukan togok dengan kemampuan lompat jauh
pada mahasiswa putra PJKR Untad angkatan 2010.
3. Untuk mengetahui apakah ada kontribusi secara
bersama-sama panjang tungkai dan kelentukan togok terhadap kemampuan lompat
jauh gaya jongkok pada mahasiswa PJKR Untad angkatan 2010.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan
gelar sarjana serta menambah pengetahuan khususnya dalam bidang olahraga.
2. Sebagai bahan perbandingan terhadap faktor-faktor
lain yang ada kaitannya dengan peningkatan hasil lompat jauh.
3. Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan
tambahan kepustakaan, serta dapat dijadikan wacana, agar pembaca memperoleh
wawasan dan pengembangan cabang olahraga lompat jauh.
4. Sebagai bahan bacaan bermanfaat bagi orang
yang berminat terhadap lompat jauh khususnya gaya jongkok, dan sekaligus
sebagai bahan pertimbangan penelitian selanjutnya dengan mengkaji lebih
mendalam tentang gerakan dasar lompat jauh gaya jongkok.
5. Hasil dari Penelitian ini dapat dijadikan
wacana kepustakaan bagi Universitas Tadulako dan Program Studi Pendidikan
Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR), agar pembaca memperoleh wawasan dalam
pengembangan cabang olahraga lompat jauh gaya jongkok khususnya bagi mahasiswa
PJKR.
E. Hipotesis
Penelitian
Hipotesis pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Ada kontribusi panjang tungkai terhadap
kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada mahasiswa putra
PJKR Untad angkatan 2010.
2. Ada kontribusi kelentukan togok terhadap
kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada mahasiswa putra
PJKR Untad angkatan 2010.
3. Ada
kontribusi secara bersama-sama panjang tungkai dan kelentukan togok terhadap
kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada mahasiswa putra PJKR Untad angkatan 2010.
F. Asumsi
Penelitian
Asumsi penelitian
merupakan anggapan-anggapan dasar tentang suatu hal yang dijadikan pijakan
berpikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian. Asumsi tersebut
didasarkan atas rumusan masalah dan hipotesis penelitian. Adapun asumsi
penelitian ini akan dikemukakan sebagai berikut:
1.
Panjang
tungkai dapat menunjang kemampuan seseorang dalam cabang olahraga atletik
khususnya nomor lompat jauh. Tungkai yang panjang akan memberikan peluang
melakukan gerakan dalam ruang yang lebih luas dan waktu yang terbatas. Banyak
cabang olahraga yang membutuhkan keadaan yang demikian seperti gerakan berlari.
Dua orang yang mempunyai kecepatan yang sama, namun berbeda dalam panjang
tungkai akan berbeda dalam mencapai jarak yang ditempuh maupun waktu yang
dicapai.
2.
Kelentukan
togok ke depan yang baik dapat menunjang kemampuan seseorang dalam lompat jauh,
karena seseorang yang memiliki kelentukan togok ke depan yang baik akan mampu
melakukan sikap jongkok pada saat melayang di udara. Selain itu, kelentukan
juga menunjang pendaratan di bak lompat dengan teknik yang benar. Kesemuanya
ini tentu saja akan mendukung jauhnya lompatan ke depan.
G. Ruang
Lingkup Penelitian
Untuk lebih
memfokuskan penelitian pada permasalahan yang telah dirumuskan, penulis memberikan
batasan ruang lingkup dalam penelitian ini yakni hanya terbatas
pada panjang tungkai dan kelentukan togok depan serta kontribusinya terhadap
kemampuan lompat jauh gaya jongkok. Penelitian ini akan diterapkan pada
sekelompok mahasiswa yakni mahasiswa putra PJKR Untad
kelas A angkatan 2010. Karakteristik
dari penelitian yaitu mahasiswa-mahasiswa yang telah mempelajari lompat jauh
sebagaimana yang terdapat dalam kurikulum program studi PJKR.
H. Definisi Operasional Variabel
Untuk
menghindari terjadinya pengertian yang keliru tentang konsep yang terlibat
dalam penelitiian ini, maka diperlukan batasan-batasan serta penjelasan secara
operasional yaitu sebagai berikut:
1.
Panjang
Tungkai
Panjang tungkai yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
ukuran panjang kaki mahasiswa putra PJKR kelas A angkatan 2010 dari pangkal
paha ke bawah sampai telapak kaki yang diukur dengan menggunakan meteran berskala sentimeter (cm).
2. Kelentukan Togok Depan
Kelentukan
togok depan adalah kemampuan togok depan melakukan gerakan ke depan dalam ruang
gerak sendi yang luwes. Dalam penelitian ini, kelentukan togok akan di ukur
dengan menggunakan tes kelentukan togok ke depan.
3. Lompat Jauh
Lompat jauh merupakan suatu gerakan melompat
menggunakan tumpuan satu kaki untuk mencapai jarak sejauh-jauhnya. Sasaran dan
tumpuan lompat jauh adalah untuk mencapai jarak lompatan sejauh mungkin ke
sebuah letak pendaratan atau bak lompat.
4. Gaya Jongkok
Gaya
diartikan sebagai cara, bentuk, sikap atau gerak-gerik. Gaya yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah gaya jongkok yang merupakan salah satu gaya dalam
olahraga atletik nomor lompat jauh.
TEKNIK LOMPAT JANGKIT
BAB
I
PENDAHULUAN
Lompat jangkit pertama kali tercatat dilakukan pada
Tailteann Games di kota Telltown atau Taillten,negara Meath, Scotland pada
tahun 1829 SM - 554 SM.Terpisah dari lompat jangkit di Scotland, olahraga ini
mungkin di kompetisikan pada Olimpiade kuno di Olympia, Roma pada tahun 776 SM
to 393. Lompat jauh pasti dijadikan salah satu event, tapi dapat kita duga
bahwa lompat jangkit juga ada dalam jadwal pertandingan. Adanya catatan
lompatan sejauh50kaki, dari situ kita bisa berasumsi bahwa terjadi lompatan
lebih dari satu kali. Atlit terkenal pada jaman kuno adalah Chionis dari
Sparta yang bertanding pada tahun 664 - 656 SM dan memenangkanlomba lari,
lompat jauh dan lompat jangkit. Peraturannya sedikit kurang jelas, tetapi
Chionis mencapai jarak 52 kaki atau 15.85 meter. Catatan lompat jauhnya 23
kaki atau 7.01 meter. Perbandingan jarakantara lompat jauh dan lompat
jangkitnya, mirip dengan yang ada pada masa kini, jadi dapat disimpulkan kalau
lompat jangkit sudah dilakukan sejak jaman dahulu.
Atlit lompat jangkit dari Indonesia adalah almarhum
F.G.E. Rorimpandey, beliau adalah atletlompat galah dan lompat jangkit yang
wafat pada 30 Juli 2009. Universitas yang memiliki lapangan untuklompat jangkit
adalah Universitas Indonesia (UI). Rekor dunia sekarang untuk lompat jangkit
adalah18.29m dipegang oleh Jonathan Edwards dari inggris untuk pria, dan 15.50m
dipegang oleh InessaKravets dari ukraina untuk wanita.
Nomor lompat jangkit dalam PON XVI 2004 di
Palembang diikuti oleh 7 (tujuh) orang atlet, yaitu Sugeng jatmiko dari Jawa
Timur (pemegang rekor nasional, dengan lompatan 15,97 m yang diciptakan di
Jakarta tahun 1997, dan rekor PON 15,91 m di Jakarta tahun 1996),
Tarmudianto(Jatim), Yousan C, Lekahena (Jabar), Doni Susanto (Jabar), Made Suta
Atmaja (Bali),Triman (Jateng), Mohamad Junaedi (DKI).
Bila dibandingkan prestasi lompat jangkit
antara atlet Indonesia dengan beberapa atlet lompat jangkit dunia, maka
prestasi yang diraih atlet Indonesia sama dengan hasil lompatan atlet dunia
tahun 1950 atas nama Adhemar da Silva (Brazil) dengan lompatan 16,00 m (Hay,
1993), dan sangat jauh bila dibandingkan dengan atlet-atlet lompat jangkit
dunia lainnya seperti Mike Conley (USA, Juara dunia 2003), Jonathan Edwards (Inggris,
pemegang rekor dunia), Charles Friedek (Jerman), Yoel Garcia (Kuba), kenny
Harrison (USA), Al-Joyner (USA), Denis Kapustin (Rusia), Kristo Markov
(Bulgaria), Christian Olsson (Swedia, peraih medali emas Olimpiade Athena
2004), Yoelbi Quesada (Kuba), Victor Saneyev (USSR, juara olimpiade Montreal,
Munchen,dan Mexico City), Josef Schmidt (Polandia).
Prestasi lompat jangkit yang dibuat
setelah tahun 1960 oleh para pelompat dunia hampir semuanya di atas 17 m. Rekor
dunia masih dipegang oleh Jonathan Edwards (Inggris, 18,45 m), sedangkan juara
Olimpiade Athena 2004 adalah Christian Olsson (Swedia) dengan lompatan 17,79 m,
perak- Marian Oprea (Romania) 17,55 m, perunggu- Danila Burkenya (Rusia) 17,48
m. Jadi kalau diamati perbedaan hasil lompatan pada lompat jangkit yang dibuat
oleh atlet Indonesia dengan atlet dunia terpaut sekitar 1,82 m (17,79- 15,97=1,82m).
Apa sebenarnya yang melatarbelakangi perbedaan yang sangat jauh antara hasil
lompatan atlet lompat jangkit dunia dengan hasil lompatan atlet lompat jangkit
Indonesia, terutama hasil yang diperlihatkan pada Pekan Olahraga Nasional XVI
2004 di Palembang.
Selain faktor fisik, terutama kekuatan
otot-otot tungkai yang sangat berpengaruh terhadap prestasi lompat jangkit
Indonesia, faktor teknik merupakan salah satu faktor yang sangat dominan dalam
menghasilkan jarak lompatan. Pengamatan di lapangan menunjukkan masih ada
beberapa pelompat yang menampilkan teknik yang kurang baik. Gambaran itu
misalnya menyangkut prosentase selama fase hop, step, dan jump
yang kurang baik, sehingga masih nampak adanya atlet yang tidak sampai
mendarat ke bak lompat. Meskipun para pelompat jangkit dunia berbeda dalam
tinggi badan, berat badan, dan kekuatan, kecepatan, tetapi teknik dasar yang
digunakan adalah sama, dari mulai awalan (run-up), hop, step,
dan jump, dimana para atlet dunia memperlihatkan aplikasi gaya
(kekuatan) dengan baik, sehingga gerakannya nampak indah.
Efisiensi gerak ini memperlihatkan bahwa
para pelompat dunia menggunakan teknik lompatan yang baik, aksinya benar-benar
efektif. Di luar dari perbedaan-perbedaan minor tersebut, sebenarnya para atlet
lompat jangkit dunia menggunakan teknik yang superior yang didasarkan pada
penggunaan prinsip-prinsip mekanika
terbaik yang mengendalikan gerak manusia (human movement). Oleh
karenanya, dalam penelitian ini yang menjadi ideal formnya yaitu juara dunia
lompat jangkit.
Keuntungan yang akan diperoleh dari
pemecahan masalah ini antara lain akan didapatkan gambaran perbandingan antara
penampilan teknik para pelompat jangkit Indonesia dengan para pelompat dunia.
Dengan demikian akan memberikan informasi yang sangat bermanfaat bagi para
pelatih, dan atlet lompat jangkit itu sendiri. Sebaliknya, jika masalah ini
tidak diteliti, maka kemungkinan besar tidak akan ada masukan dan perbaikan.
Bukti di lapangan menunjukkan bahwa dalam SEA Games 2007 di Thailand, pelompat
Indonesia Doni Susanto hanya berada di posisi keempat di bawah pelompat negara
Thailand dan Filipina, dengan hasil lompatan 15,99 m.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Lompat Jangkit (Triple Jump)
Lompat
jangkit (kadang-kadang disebut sebagai hop, step dan jump) adalah sebuah
olahraga trek andfield (melibatkan jalur di lapangan), mirip dengan lompat
jauh, tetapi melibatkan rutinitas “ jingkat (hop), langkah (step) dan
melompat (jump)”, dimana pesaing berjalan
menyusuri jalur dan melakukan satu jingkatan
(hop), satu langkah (step) dan kemudian melompat (jump)
ke dalam kotak pasir. Di
dalam lompat jungkit sebenarnya terjadi tiga kali tolakan, tiga kali melayang
di udara, dan tiga kali pendaratan. Jarak lompatan di ukur dari kumulatif
ketiga gerakan lompat jangkit tersebut (hot-step-jump).
Gerakan lompat
jangkit memproyeksikan pusat gaya berat tubuh si pelompat di udara ke arah
depan dengan melalui tiga tahapan lompatan atau tumpuan. Yaitu Hop-Step-Jump.
Menurut ketentuan si pelompat harus melakukan tiga kali menumpu, menumpu dua
kali dengan kaki yang sama yang disebut step dan diakhiri dengan gerakan jump
atau lompat. Hasil dari suatu lompatan sangat tegantung dari kecepatan
horizontal dan kekuatan pada ketiga tahapan tumpuan tesebut. Jarak antara hop,
step, jump bervariasi tergantung dari kecepatan, kekuatan, dan kelentukan otot.
Sudut tumpuan yang tepat sangat membantu menjaga kecepatan.
Lompat jangkit dibagi dalam beberapa
tahap gerakan: ancan-ancang, ”jingkat”, ”langkah”, ”lompat’ dan mendarat.
Jarak yang ditempuh atlet dalam lompat jangkit dapat diuraikan menjadi
rangkaian gerak yang sama seperti pada lompat jauh. Dalam lompat jangkit, take
off dan landing untuk tiap dua fase pertama (hop dan step)
harus diatur untuk memudahkan fase berikutnya. Misalnya, seorang pelompat
jangkit yang memperoleh jarak maksimum (take off+flight+landing)
dari fase hop-nya tidak akan mencapai usaha terbaiknya, karena jarak
yang diperoleh untuk dua fase berikutnya akan berkurang. Dengan kata lain,
jarak yang diperoleh dengan usaha maksimum pada fase hop akan hilang
pada fase step dan jump.
Distribusi
usaha yang optimum dari ketiga fase telah menjadi pokok persoalan yang penting.
Pokok persoalannya terfokus pada seberapa besar jarak hop (diukur dari
papan sampai ujung kaki), jarak step (dari ujung kaki ke ujung kaki),
dan jarak jump (dari ujung kaki sampai tanda terdekat pada pasir)
dianggap sebagai persentase jarak lompatan yang harus dibandingkan. Teknik
lompat jangkit dimana jarak fase hop paling sedikit 2% lebih besar dari
pada jarak fase berikutnya yang terpanjang disebut hop-dominated, jarak
fase jump paling sedikit 2% lebih besar dari pada fase terpanjang berikutnya
disebut jump-dominated, dan bila tidak ada satu fasepun yang lebih
panjang 2% daripada jarak terpanjang berikutnya disebut balanced.
Jarak
dan rasio ketiga fase yang dicatat untuk para pelompat dunia memperlihatkan
bahwa terdapat perubahan besar dalam teknik yang digunakan selama 80 tahun. Data
juga menunjukkan bahwa kontribusi step terhadap prestasi lompatan
meningkat dengan rasio antara 28-30% (Hay, 1993). Lompat jangkit memerlukan speed,
power, rhytm, balance, fleksibility, dan body
awareness. Lompat jangkit disebut sebagai power ballet. Kaki take
off harus merupakan bagian dari tungkai yang terkuat, karena digunakan
untuk fase hop dan step. Pelompat harus berkonsentrasi pada
setiap fase lompatan. Posisi kaki mengenai tanah harus dalam posisi datar atau full-footed
pada fase hop dan step, dengan lutut pada tungkai landing sedikit
ditekuk untuk persiapan take off.
Lari awalan untuk lompat jangkit sama dengan lari
awalan untuk lompat jauh. Tujuannya
adalah untuk memperoleh kecepatan yang lebih besar yang dapat dikontrol selama
fase jump. Kurangnya kemampuan teknik dan kekuatan otot tungkai akan
menurunkan jarak dan jumlah kecepatan yang harus digunakan untuk lompatan.
Perbedaan yang utamaanya adalah transisi menuju jump. Penurunan titik
berat badan dalam persiapan lompatan lebih sedikit dalam lompat jauh. Pelompat
lari menginjakkan kakinya di papan dalam usahanya untuk mempertahankan kecepatan
horisontal dan meminimalkan komponen vertikal pada fase hop. Ketinggian hop
yang berlebihan akan mengganggu lompatan karena waktu absorpsi yang meningkat
selama landing menurunkan kecepatan horisontal.
B. Fase
Hop
Gerakan
hop adalah gerakan dua kali menumpu kaki yang sama dengan tidak menghambat
kecepatan lari atau awalan. Supaya lebih jelasnya perhatikan penjelasan berikut:
Perubahan kecepatan yaitu tekanan kaki ke arah depan dan ke atas yang digerakkan oleh kaki tumpu.
Perubahan kecepatan yaitu tekanan kaki ke arah depan dan ke atas yang digerakkan oleh kaki tumpu.
a.
Perubahan gerakan cenderung ke arah
depan tidak ke atas.
b. Setelah
menumpu kaki menekan mengayuh dengan tenaga penuh sehinga
kaki hamper sejajar dengan tanah.
c. tahap
akhir gerakan dengan sikap melayang untuk melakukan pendaratan.
Sebelum mendarat kaki tumpu harus digerakkan ke depan, sedangkan kaki yang satu tergantung bebas di belakang titik pusat berat badan.
Sebelum mendarat kaki tumpu harus digerakkan ke depan, sedangkan kaki yang satu tergantung bebas di belakang titik pusat berat badan.
d. Saat
kaki menumpu tumit lebih dahulu menyentuh tanah, tumit berada di depan titik
pusat berat badan. saat melayang punggung diusahakan tegak tidak condong.
Tungkai
take off harus lurus penuh (fully extended) untuk menyelesaikan
dorongan pada tanah dan paha tungkai pendorong harus paralel dengan tanah pada
saat take off, dengan sudut lutut mendekati 45 derajat dan kaki rileks.
Kaki dari tungkai take off harus ditarik mendekatipantat. Tungkai
pendorong akan memutarnya dari depan titik beratnya sampai ke belakangnya,
sedangkan tungkai take off menarik ke depan. Ketika paha tungkai take
off mencapai posisi paralel, bagian bawah dari tungkai lurus melewati lutut
dengan posisi kaki dorsi fleksi. Setelah tungkai diluruskan, pelompat melakukan
dorongan kuat ke bawah, sebagai persiapan untuk melakukan active landing.
Fleksibilitas sangat penting, semakin besar sudut ekstensi selama flight,
maka waktu melayang semakin besar dan
semakin besar hop-nya.
C. Fase
Step
Gerakan
tumpuan yang ketiga yang dilakukan setelah gerakan tumpuan kaki yang sama,
gerakan ini bertujuan mengubah kecepatan ke arah gerakan step, untuk menjaga
gerak mendatar sebanyak mungkin untuk dapat mengangkat bobot badannya ke arah
jump.
Fase
kedua dalam lompat jangkit dimulai ketika kaki take off menyentuh tanah.
Tungkai take off harus dalam keadaan lurus dengan paha tungkai
pendorong tepat berada di bawah garis paralel dengan tanah. Ketika
pelompat lepas dari tanah, tungkai take off tetap lurus di belakang
titik beratnya dengan betis tetap hampir paralel dengan tanah selama mid-flight.
Pada waktu yang bersamaan, tungkai yang berlawanan mendorong sampai
setinggi panggul dimana tetap dipertahankan sampai mid-flight selama
fase step. Sudut lutut tidak lebih dari 900. Ketika pelompat
mulai turun, tungkai pendorong lurus dengan ankle fleksi (memperpanjang
tuas) dan snap ke bawah untuk melakukan transisi dengan cepat ke
fase tiga. Selama fase step, pelompat konsentrasi pada langkah step sejauh
mungkin. Hal ini biasanya merupakan fase terlemah dan memerlukan
pelatihan yang khusus.
D. Fase
Jump
Fase
ketiga dan terakhir dalam lompat jangkit, yaitu lompatan panjang yang diawali
dengan lompatan dan bukan lari. Tungkai take off (tungkai pendorong pada
fase sebelumnya) diluruskan dengan kuat selama kontak dengan tanah. Dengan paha
tungkai dari tungkai bebas berada pada ketinggian pinggang. Lengan mendorong ke
depan dan atas, dan melakukan blok selama beberapa saat ketika tangan berada
pada ketinggian muka. Togok harus dipertahankan tegak dan dagu ke atas dengan
mata diarahkan ke pit. Ketika berada di udara, tungkai bergerak ke
posisi menggantung dengan kedua paha berada di bawah togok, lutut bengkok
mendekati 90 derajat. Kedua lengan diluruskan ke atas untuk memperlambat rotasi
dengan kedua tangan mengarah ke langit. Posisi ini dipertahankan sampai mid-flight.
Kedua lengan kemudian mendorong ke depan, bawah, belakang pada saat tungkai
diayun serentak ke depan dan paha diangkat sejajar dengan tanah. Lutut tetap bengkok
untuk memperoleh keuntungan tuas yang lebih pendek. Ketika paha berada pada
posisi paralel, tungkai diluruskan cepat dan ankle fleksi dan posisi jari
kaki menghadap ke atas. Pelompat mempertahankan posisi ini sampai tumitnya
menyentuh pasir. Ketika lutut benar-benar berada dalam posisi akan menyentuh
pasir, maka panggul naik.
E. Aksi Lengan pada Fase Hop, Step, dan Jump
Penggunaan
single arm action (speed-oriented) atau double arm action (power-oriented)
pada saat take off tergantung pada pilihan pelompat. Untuk
pelompat pemula, take off single arm lebih mudah dilakukan karena
gerakannya sama dengan gerak lari. Metode double arm menghasilkan power
ketika take off, tetapi pelompat pemula sering menurunkan
kecepatan saat mendekati persiapan, dengan demikian menurunkan efek power
tambahan. Dalam teknik single arm, lengan sedikit menyilang
di depan badan ketika step akhir. Ketika take off step dimulai,
kedua lengan diam di samping badan dan tidak dan tidak diayun. Kedua
lengan pada saat diturunkan akan mendekati pangggul bertemu dengan
lengan yang dibelakang dan kedua lengan bergerak selama lompatan. Ketika
kaki take off kontak dengan tanah, kedua lengan mendorong ke
depan dan atas tubuh. Sudut kedua lengan di sikut lebih besar dari 900
untuk menciptakan impuls ke depan yang lebih besar.
Tak
ada keperluan untuk melakukan dorongan ke atas pada teknik ini. Seperti
pada teknik single arm, lengan diblok sesaat pada ketinggian muka
dan tungkai pendorong di blok ketika paha mendekati ketinggian pinggang.
Sekalipun demikian penekanan harus difokuskan pada kecepatan horisontal,
dan bukannya ketinggian lompatan. Dorongan kedua lengan dan tungkai
memberikan impuls vertikal yang diperlukan, tanpa melakukan lompatan ke
atas. Setelah kedua lengan diblok, kemudian ditarik ke belakang badan
untuk persiapan fase step. Ketika menggunakan teknik double
arm, pelatih harus memastikan atletnya untuk tidak melakukan
dorongan ke atas sebelum fase pertama dengan mengayunkan kedua lengan ke
belakang saat take off. Penambahan dorongan tersebut hanya akan menurunkan
kecepatan horisontal yang penting.
F. Dorongan Kaki (Foot Strike) pada Ketiga Fase
Transisi
dari hop ke step, dan dari step ke jump, merupakan factor
penting dalam mempertahankan kecepatan terbesar selama tiap fase lompatan. Active
landing ini (pawing) sama dengan dorongan kaki menggaruk tanah dan
menarik ke arah tubuh. Selama active landing, tungkai pelompat
diluruskan, ankle di fleksikan dan tuas keseluruhan ditarik ke bawah dengan
kuat pada bagian mid-foot yang menyentuh tanah. Selama kontak, tubuh
bergerak ke depan dengan ujung kaki sambil mendorong tanah. Jika atlet mendarat
kaku dengan tumit, maka akan terjadi braking action yang menurunkan
kecepatan dan jarak lompatan serta meningkatkan kemungkinan terjadinya cedera.
BAB
III
PENUTUP
Lompat
jangkit merupakan power ballet, maka para pelompat jangkit Indonesia
harus meningkatkan power tungkai, kecepatan run-up, keseimbangan, dan
fleksibilitas. Kurangnya power dan keterampilan teknik (pengamatan
beberapa pelompat) akan menurunkan jarak dan jumlah kecepatan yang akan
ditransfer. Berdasarkan analisis pendekatan tradisional dengan ideal form Victor
Saneyev (juara olimpiade 3 kali), maka para pelompat Indonesia dianjurkan untuk
menggunakan double arm-action.
DAFTAR
PUSTAKA
Ballesteros, J.M. 1992.
Basic Coaching Manual: IAAF.
Bartlett, R.
1997. Introduction to Sports Biomechanics: E & FN SPON An Imprint of
Chapman & Hall.
Bober, T. 2004. Investigation
of the Take-off Technique in the Triple Jump. Berlin: IAAF New Studies in
Athletics. Volume Nineteen Issue number 4. December 2004.
Carr,
G. 1997. Mechanics of Sport: Human Kinetics.
Dyson, G.H.G.,
et.al. 1962. Dyson’s Mechanics of Athletics: Hodder and Stoughton.
Dickwach. 2004. Characteristics
of the Target Technique in the Triple Jump and Conclusions for the Formation of
Technique Training. Berlin: IAAF New Studies in Athletics. Volume
Nineteen issue number 4. December 2004.
Hay, J. 1993. The
Biomechanics of Sports Techniques. New Jersey: Prentice Hall Englewood
Cliffs.
Knudson, D.V.
Morrison, C.S. 1997. Qualitative Analysis of Human Movement. Human
Kinetics.
Knoedel, J.
2004. Active Landing in the Triple Jump. Berlin: IAAF New Studies in
Athletics. Volume Nineteen issue number 4. December 2004.
Lawson, B. 1980. Triple Jump.
Berlin: IAAF New Studies in Athletics. Volume Nineteen Issue number 4. December
2004.
LeBlanc, S.
2004. The Role of Active Landing in the Horizontal Jumps. Berlin: IAAF
New Studies in Athletics. Volume Nineteen issue number 4. December 2004.
Miladinov.,
et.al. 2004. Individual Approach in Improving The Technique of Triple Jump
for Women. Berlin: IAAF New Studies in Athletics. Volume Nineteen
Issue Number 4. December 2004.
Simonyi, G.
2004. Triple Jumping with A Double-arm Swing. Berlin: IAAF New Studies
in Athletics. Volume Nineteen Issue Number 4. December 2004.143.
Langganan:
Postingan (Atom)